Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

EMPAT JENIS SISWA

Kita bisa membedakan siswa menurut kesadaran dan kenyamanannya bersekolah : pertama, ada siswa yang sadar kalau dia sekolah dan dia menikmati sekolahnya itu. kedua, siswa yang sadar kalau dia sekolah, tetapi dia tidak menikmati sekolahnya. Ketiga, siswa yang tidak sadar kalau dia sekolah tetapi dia tidak menikmati ketidaksadarannya itu dan keempat, siswa yang tidak sadar kalau dia sekolah dan dia menikmati dalam ketidaksadarannya.

 

Kelompok pertama yakni siswa yang sadar kalau dia sekolah dan menikmati sekolahnya. Ciri-cirinya siswa seperti ini adalah semangat untuk belajar dan berprestasi, memperlakukan dan menganggap semua tugas sekolahnya bukan sebagai beban dan merasa senang berada di sekolah. Siswa dalam kelompok pertama ini adalah siswa-siswi yang aktif dan interaktif. Sebagai remaja dia juga bisa bermain dan dalam statusnya sebagai siswa dia juga menyadari akan kewajibannya menuntut ilmu.

 

 


Siswa dalam kelompok pertama ini umumnya merasa senang berada di lingkungan sekolahnya dan selalu mencari kegiatan yang positif dan konstruktif di sekolah. Misalnya aktif mengikuti ekstrakurikuler dan mengaplikasikan apa yang didapatnya, atau mereka yang tergabung dan aktif dalam organisasi siswa semisal IRM atau OSIS, tetapi tidak melupakan tugasnya untuk belajar—meskipun tidak menutup kemungkinan mereka yang aktif di kegiatan siswa ini juga tidak termasuk dalam kelompok pertama.

 

Kelompok kedua, siswa yang sadar kalau dia sekolah tetapi dia tidak menikmati sekolahnya. Siswa jenis ini tahu bahwa dia punya tugas untuk belajar. Dia mungkin juga pandai di kelas, nilai rapornya bagus, sampai ikut Bimbel dan sejenisnya. Siswa dalam kelompok ini juga selalu melaksanakan tugas yang diberikan oleh gurunya dengan baik. Tetapi yang jadi masalah adalah siswa ini tidak merasa senang dengan semua yang dilakukannya. Ada keinginan yang tidak tersampaikan oleh siswa dalam kelompok ini. Termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang salah ambil jurusan, baik itu karena paksaan orang tua atau kesalahan orientasi diri, namun dia masih sadar dan berusaha untuk belajar.

 

Kelompok ketiga adalah mereka yang tidak sadar kalau dia sekolah tetapi dia tidak menikmati dalam ketidaksadarannya. Maksudnya, dia “tahu” kalau dia seorang pelajar, tetapi tidak “sadar” akan status, fungsi dan kewajibannya sebagai pelajar, namun dalam hatinya ada perasaan tidak nyaman dengan semua itu. Pada dasarnya siswa dalam kelompok ini sebenarnya bukanlah mereka yang urakan, hanya saja faktor lingkungan (tempat tinggal atau pergaulan) yang membuat mereka seperti itu.

 

Mereka yang tergolong dalam jenis ketiga ini adalah siswa yang perbuatan dan ucapannya tidak mencerminkan dirinya sebagai seorang pelajar. Merasa malas untuk sekolah, tidak mengerjakan tugas dengan baik, tidak aktif dalam kegiatan siswa (atau berorientasi main-main, tidak serius) dan tidak merasa nyaman jika harus berlama-lama tinggal di sekolah. Tetapi juga ada semacam keinginan kecil dalam hati mereka untuk dapat berprestasi seperti teman-temannya yang lain.

 

Yang terakhir, siswa yang tidak sadar kalau dia sekolah dan menikmati dalam ketidaksadarannya itu. Siswa dalam kelompok ini adalah biang masalah sekolah seperti tawuran pelajar, kenakalan remaja, dsb. Kelompok ini menyebarkan bibit penyakit kemalasan dan membawa siswa yang sebenarnya baik menjadi kawan mereka (di kelompok tiga di atas). Siswa dalam kelompok ini membutuhkan “hidayah” untuk bisa sadar akan status, fungsi dan kewajibannya sebagai pelajar.

 

Konsciousifikasi
Tidak ada yang lebih tahu termasuk dalam kelompok siswa yang mana kita, kecuali kamu sendiri dan Allah. Yang perlu untuk diperhatikan adalah bahwa pembedaan kelompok tersebut bersifat dinamis dan kualifikasi kita berkaitan dengan kesadaran dalam diri kita sendiri. Pemaksaan hanya akan dapat membuat kita semakin tidak sadar, karena kesadaran bersifat personal, meski faktor pembentuknya bisa dari eksternal. Guru, sekolah, orang tua dan teman mungkin bisa menjadi sumber inspirasi kesadaran—atau mungkin juga menyebabkan ketidaksadaran—tetapi semua resultan adalah hasil olahan dari vektor-vektor pribadi.

 

Sejauh apapun sekolah ini berusaha membentuk “S”, “I”, “E” dan “S” Quotient kamu (maksudnya Kecerdasan Spiritual, Intelligent, Emotional dan Sosial), semua tidak ada artinya jika tidak diimbangi dengan kesadaran pribadi. Jadi, semoga teman-teman semua adalah siswa-siswa yang sadar. Sehingga pengorbanan biaya, waktu, tenaga, pikiran dan perasaan selama tiga tahun bersekolah menjadi tidak sia-sia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 24, 2007 by in Intelektual.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: