Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

CHAOS DAN COSMOS

Perhatikan benda-benda di sekitar kita,  Pandangan kita melewati sebuah zat yang jarang terpikir kalau itu ada. Udara, seolah-olah adalah ruang kosong yang hampa. Dan benda-benda yang terlihat seakan-akan adalah benda yang benar-benar padat. Tetapi tidak jarang, apa yang tampak, bisa menipu seseorang.

Coba pahami lebih dalam. Semua benda tersusun atas atom-atom. Atom-atom tersebut sedemikian kecil sehingga mata telanjang tidak bisa melihatnya. Kita tidak bisa melihat atom-atom tersebut sebagai sebuah partikular yang independen. Kita bisa melihat sebuah benda dengan mata telanjang jika atom-atom tersebut berkumpul membentuk suatu ikatan molekul—kemudian zat–yang lebih besar. Jadi, kita berada pada dunia yang benar-benar “rame”. Udara pun tidak se-kosong yang kita bayangkan. Meski lebih bebas bergerak dan dengan kerapatan yang lebih renggang, molekul-molekul penyusun udara sebenarnya terbilang rapat. Jadi dari pengamatan sampai di titik ini, kita sampai pada kesimpulan bahwa bumi ini “penuh”, dalam setiap benda, molekul-molekul berdesakan satu sama lain, dan dalam satu molekul, atom-atom juga saling berdesakan satu sama lain. Kita benar-benar hidup dalam satu dunia yang “padat”.

 

Berhenti baca sebentar dan coba renungkan “kepadatan” dunia yang sedemikian hebatnya ini.

 

Sekarang kita lanjutkan. Dalam setiap benda yang terlihat penuh tersebut jika ditelisik lebih lanjut, malah akan kita temui “kekosongan” yang lebih luas. Dalam uraian di atas, pengamatan kita sampai pada level atomik. Kini kita masuk pada sub-atomik.

 

Sebuah atom tersusun atas beberapa partikel, yakni proton, neutron, quark dan elektron. Tiga partikel pertama berdekatan dalam teritorial inti, sedangkan yang terakhir menjadi partikel nomad yang berevolusi. Saya yakin semua sudah tahu dan mungkin lebih paham dari saya. Hanya satu hal yang ingin saya sampaikan, jarak antara elektron dengan inti ini sedemikian jauh sehingga sebagian besar isi atom adalah “kekosongan” materi. Komparasinya, jika sebuah elektron kita perbesar sekepalan tangan, maka besar atom hidrogen sama dengan bumi ini. Jadi kekosongan materi sangat jauh lebih besar dari kepadatan.

 

Jika kita satukan keseluruhan pandangan ini maka akan kita dapati suatu kompleksitas dalam baluran simplisitas yang sempurna. Melihat sesuatu yang kosong tetapi ternyata berisi, tetapi keterisian itu sendiri tersusun atas sebagian besar kekosongan-kekosongan tak terbayangkan.

 

Saya jadi teringat kata-kata Biksu Tongsamcong : “kosong adalah berisi, berisi adalah kosong”. Maksudnya pandangan kita sering menipu kita dan dirinya sendiri. Melihat keterisian sebagai kekosongan dan melihat kekosongan sebagai keterisian.

 

Kita lanjutkan pengamatan kita pada perfeksitas tatanan kosmik dalam tataran lebih menyeluruh.

 

 Benda-benda yang kita lihat, seakan-akan diam dan tidak melakukan aktifitas apapun, seolah-olah mereka pasif. Bahkan jika kita menatap benda langit—yang dalam persepsi kita—sudah barang tentu bergerak pun, seolah diam jika pengamatan itu mengambil limit waktu yang sempit.  Padahal semuanya—apapun itu—sedang terlibat dalam pergerakan tanpa henti, selagi the expanding universum ini masih eksis. Kita mulai dari level atomik sampai kosmik.

 

Dalam setiap atom, elektron tidak pernah berhenti berputar mengelilingi inti. Di setiap benda di bumi ini semua berputar dalam dirinya sendiri. Bumi ini pun berputar pada dirinya sendiri dan berputar bersama benda langit dalam sistem tata surya mengelilingi matahari. Tata surya dan sistem setingkat—yang juga punya perputaran yang sama—bersama-sama mengelilingi pusat galaksi. Galaksi kita, Bimasakti, bersama-sama galaksi lain yang didalamnya juga terdapat perputaran serupa, bersama-sama berputar mengelilingi inti cluster. Cluster-cluster dalam jagat raya ini dan semua yang terkandung di dalamnya secara mempesona berputar mengelilingi pusat kosmik sambil mengembang sampai titik klimaks, sampai kemudian “digulung seperti penciptaan awal”—seperti bahasa al-Qur’an.

 

 

 

 

 Kompleksitas dan Simplisitas

Dari semua uraian di atas—dan banyak contoh lain, tampak bahwa sebenarnya tatanan kosmik sedemikian rumit sehingga argumen “kebetulan” dari evolusi Darwin terasa absurd. Kosmologi yang didasarkan atas prinsip “kebetulan dan acak” tidak bisa menjawab kompleksitas yang teratur seperti ini.  Tetapi uniknya, kompleksitas tatanan kosmik justru terbungkus pada simplisitas yang maksimal. Hal ini seperti digambarkan Einstein dengan rumus E=MC2, yang begitu sederhana tetapi dihasilkan dari perhitungan dan persamaan yang menghabiskan beratus-ratus lembar kertas kerja. Sampai-sampai sang maestro fisika tersebut berkata: “Hal yang paling sulit dipahami dari alam ini adalah ia bisa dipahami”.

 

 

 Cosmos

Dunia ini serba teratur dan dinamis. Keteraturan dan dinamis adalah keniscayaan, artinya include dengan alam. Sehingga ketidak-teraturan dan statis sama dengan melawan hukum alam (sunatullah), dan apa yang melawan sunatullah, tiada lain kecuali kehancuran yang akan didapatkan, meski tidak semua kehancuran mesti buruk.

 

Misalnya saja, daur hidro. Air di permukaan bumi terkena panas dan menguap, kemudian berkondensasi, membentuk mendung, turun hujan, masuk tanah, ditahan akar tanaman, ada yang mncul ke permukaan dan menguap lagi. Begitu seterusnya. Jika ada rantai yang terputus, maka sistem yang tertata akan rusak dan implikasinya adalah kerugian bagi alam itu sendiri. Pemanasan global misalnya, membuat kadar penguapan air semakin besar, sementara kuantitas air dalam tanah tidak bisa mengimbanginya karena banyak pohon yang ditebang.

 

Sedangkan dinamis berarti terus beraktivitas atau “bergerak”. Elektron bergerak mengelilingi inti untuk mengimbangi gaya sentrifugal dengan gaya sentripetal, begitu pula semua perputaran di kosmos ini. Apa jadinya jika elektron dihentikan perputarannya, maka akan terjadi ledakan energi dan kehancuran atom tersebut.

 

Pada akhirnya, satu yang ingin ditegaskan oleh tulisan ini yaitu kenyataan bahwa alam ini kosmos, jika ingin membuat kehancuran, maka ciptakan chaos. Dalam kehidupan ini, kosmos etika diatur dalam agama. Berarti dengan tidak mematuhi kosmologi agama, berarti kita sedang merencanakan kehancuran alam, baik alam personal, komunal, maupun global.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 24, 2007 by in Humanis.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: