Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

SUSTAINIBILITAS FUNGSI ZAKAT

Kalau kita mencermati realitas masyakat kita saat ini, kemudian kita bandingkan dengan kondisi masyarakat Islam pada masa kejayaannya dulu, maka akan kita temukan perbedaan yang signifikan. Jika dulu pada periode kepemimpinan khulafaurrashidin, pemerintahan Islam kesulitan mendistribusikan zakat karena sulitnya mencari orang yang mau menerimanya karena merasa mampu dan beranggapan dia seharusnya berzakat, bukan malah menerima zakat. Bahkan amil zakat waktu itu sering terjun langsung mencari anggota masyarakat yang berhak menerimanya. Saat ini, lembaga-lembaga penyalur zakat juga kesulitan menyalurkan zakat, ironisnya bukan karena tidak adanya orang yang perlu diberi zakat, tetapi jumlah orang yang meminta diberi zakat lebih banyak dari jumlah zakat yang hendak disalurkan. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya orang yang sebenarnya tidak berhak menerima zakat, tetapi “merasa” miskin sehingga menadahkan tangan untuk menerimanya.

 Bahkan kemarin ada kejadian yang membuat hati terenyuh. Di kota Gresik, seperti tradisi tahun-tahun sebelumnya, ada seorang penguasaha yang selalu membagi zakat tiap akhir Ramadhan, jumlahnya pun tidak sedikit. Karena besarnya rupiah pemberian ini, maka banyak orang berdatangan dari dalam maupun luar kota untuk meminta zakat. Bahkan karena saking banyaknya, orang-orang ini dibagi menjadi dua gelombang: laki-laki dan perempuan. Pada gelombang kedua, agaknya orang-orang mulai tidak sabar dan takut tidak kebagian. Akhirnya antrian yang tadinya rapi berubah menjadi tidak teratur. Orang mulai berebut mendapat bagian. Banyak yang jatuh dan terinjak-injak, dua orang meninggal dunia dan si pengusaha yang berniat baik malah harus berurusan dengan kepolisian.

Memperhatikan dua realitas yang bertolak belakang diatas, semestinya kita menyadari bahwa harus ada pembaharuan dalam manajemen zakat. Sehingga ibadah yang menjadi salah satu rukun Islam ini tidak malah kehilangan orientasi sosialnya, tidak mubadzir, tepat guna dan relevan dengan kebutuhan masyarakat kontemporer. Persoalannya, karena zakat termasuk dalam ranah ibadah, yang mana untuk menentukan sesuatu didalamnya wajib harus ada dasar/dalil, maka kita perlu menoleh pada landasan, baik landasan syar’i maupun yang lain.

Beberapa khilafiah
Salah satu jenis zakat yang mungkin saat ini paling relevan dan kontekstual untuk kita bicarakan adalah zakat fitri, bukan zakat fitrah!. Memang ada beberapa jumhur ulama’ yang menamakan dengan zakat fitrah, karena maksud dari zakat ini adalah zakat jiwa, diambil dari kata fitrah, yaitu asal-usul penciptaan jiwa (manusia) sehingga wajib atas setiap jiwa (Fathul Bari, 3/367). Semakna dengan itu Ahmad bin Muhammad Al-Fayyumi menjelaskan bahwa ucapan para ulama “wajib fitrah” maksudnya wajib zakat fitrah. (Al-Mishbahul Munir: 476). Namun pendapat yang lebih kuat adalah yang menyatakan bahwa zakat yang kita keluarkan disebut zakat fitri. Kata Fithri di sini kembali kepada makna berbuka dari puasa Ramadhan, karena kewajiban tersebut ada setelah selesai menunaikan puasa bulan Ramadhan. Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar Al-’Asqalani menerangkan bahwa sebutan yang kedua ini lebih jelas jika merujuk pada sebab musababnya dan pada sebagian penyebutannya dalam sebagian riwayat. (Lihat Fathul Bari, 3/367). Penegasan dari pengertian ini saat penting dalam rekonstruksi managemen zakat nantinya.

Karena pengertian fitri yang lebih tepat adalah makanan, maka zakat fitri adalah zakat makanan. Secara manshus, bahan makanan yang diberikan sebagai zakat adalah gandum dan kurma. Namun jika diqiyaskan bisa diambil pengertian fitri adalah makanan pokok masing-masing. Masyarakat. Lalu bagaimana jika zakat fitri diberikan dalam bentuk uang?. Beberapa fuqaha seperti Imam Malik, Syafi’i, Ahmad dan Dawud melarangnya. Sedangkan Imam Hambal memperbolehkannya, pendapat ini kemudian dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah dengan alasan kemaslahatan dan kebutuhan (Majmu’ Fatawa).

Rekonstruksi
Menilik dari berbagai pendapat diatas, kemudian kita bawa dalam persoalan kehidupan kontemporer, maka sangat relevan kiranya jika kita mengambil pendapat Ibnu Taimiyah, bahwa titik tekan peruntukan zakat fitri itu pada kebutuhan dan maslahah. Jika begitu, maka kita hanya perlu mencari, apa kebutuhan masyarakat miskin saat ini? Dan sebagai kaum terpelajar, kita juga mesti berfikir bagaimana supaya zakat ini berfungsi optimal dan menjangkau kebutuhan si miskin.

Orang miskin yang menerima zakat, sering sekali terjebak pada pemenuhan kebutuhan sesaat-jangka pendek. Padahal, pemenuhan kebutuhan jangka panjang yang berorientasi masa depan itulah yang mestinya menjadi prioritas zakat fitri. Kalau mereka menerima zakat dalam bentuk bahan makanan, dapat dipastikan kemanfaatan zakat itu tidak akan bertahan lama.

Menurut teori Lingkaran Setan Kemiskinan (Vicious Circle of Poverty), salah satu cara memutus mata rantainya adalah memberikan pendidikan yang berkualitas sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat miskin. Dengan pendidikan yang baik, maka peluang mereka untuk keluar dari lingkaran kemiskinan menjadi semakin besar. Masalah selama ini adalah, jangankan memperoleh pendidikan yang berkualitas, untuk kebutuhan pangan sehari-hari saja sulit pemenuhannya.

Oleh karena itu, zakat fitri—yang notabenenya—tidak masuk dalam list pemasukan tetap orang miskin bisa dialokasikan pada pendidikan. Hal ini tidak bertentangan dengan syara’, mengingat karena pengalokasian zakat fitri (menurut Ibnu Taimiyah) yang lebih pada pemenuhan kebutuhan, sedangkan pendidikan sendiri, bagi masyarakat, juga merupakan sebuah kebutuhan primer. Bahkan pemenuhan kebutuhan pendidikan ini, dapat dianggap, sebagai satu-satunya solusi bagi mereka agar keluar dari kondisi saat ini. Pengalokasian zakat fitri untuk pendidikan kaum miskin termasuk pada perbuatan yang future oriented.

Sehingga dari uraian diatas, saya kira sustainibilitas (kesinambungan) fungsi zakat (baik bagi mustahiq maupun muzakki) akan tercapai jika zakat (baik fitri maupun yang lain) diorientasikan pada bidang pendidikan kaum miskin.

2 comments on “SUSTAINIBILITAS FUNGSI ZAKAT

  1. Burhanuddin
    September 30, 2008

    numpang kasi komentar
    Menurut saya zakat fitri justru untuk pemenuhan kebutuhan jangka pendek, sehingga dibatasi waktu pembagiannya yaitu sebelum khatib naik ke mimbar. hikmahnya adalah agar si miskin dapat juga ikut bergembira di hari raya.
    Adapun untuk jangka panjang, di situlah peranan zakat harta yang jumlahnya jauh lebih banyak dan waktu pembagiannya tidak dibatasi.

  2. Smile _ Happy
    November 21, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 8, 2007 by in Religius.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: