Arsip

Arsip Penulis

Corporate Governance dalam Mewujudkan Corporate Social Performance

November 21, 2009 ahmadfk Tinggalkan komentar

Dewasa ini Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan menjadi bincangan yang ramai dibicarakan. Kesadaran akan tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan menunjukkan pencapaian yang makin baik. Hal ini didasari pada pemahaman bahwa sebuah organisasi (tidak hanya perusahaan) memiliki tanggung jawab dalam setiap aspek operasionalnya dan tidak hanya memperhitungan persoalan finansial atau deviden semata.

Kepekaan dan kepedulian organisasi—terutama yang dilakukan banyak perusahaan—bahkan sudah diatur secara legal formal dalam berbagai bentuk, misalnya pengesahan undang-undang dan regulasi terkait serta pembentukan lembaga yang konsen terhadap penerapan CSR, bahkan ada ketentuan sangsi jika perusahaan tidak menerapkan CSR. Meskipun pada tataran operasional-praksis masih banyak celah yang perlu dikritisi, namun setidaknya konsen perusahaan dan masyarakat akan pentingnya CSR menjadi upaya penting yang harus selalu ditingkatkan.

Diantara konsep penting CSR adalah Corporate Social Performance (CSP) /Kinerja Sosial Perusahaan dan Corporate Governance (CG)/ Tata Kelola Perusahaan. Dibawah ini akan kita urai kedua konsep tersebut di atas.

Corporate Social Performance (CSP)

Kinerja Sosial Perusahaan/Corporate Social Performance (CSP) adalah penilaian kinerja sebuah perusahaan dilihat dari peran sosial CSR yang dimainkannya ditengah masyarakat. Semakin sebuah perusahaan mengimplementasikan CSR dan komponen terkait (misalnya Amdal) dengan baik, maka kinerja sosial perusahaan tersebut akan semakin terangkat. Hasil yang diharapkan, tentu kembali kepada perusahaan dalam bentuk dukungan publik dan penguatan faktor sosial terhadap pengelolaan dan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) dari masyarakat terhadap perusahaan yang bersangkutan.

Hasil Survey “The Millenium Poll on CSR” (1999) yang dilakukan oleh Environics International (Toronto), Conference Board (New York) dan Prince of Wales Business Leader Forum (London) diantara 25.000 responden di 23 negara menunjukkan bahwa dalam membentuk opini tentang perusahaan, 60% mengatakan bahwa etika bisnis, praktek terhadap karyawan, dampak terhadap lingkungan, tanggungjawab sosial perusahaan (CSR) akan paling berperan, sedangkan bagi 40% citra perusahaan & brand image yang akan paling mempengaruhi kesan mereka. Hanya 1/3 yang mendasari opininya atas faktor-faktor bisnis fundamental seperti faktor finansial, ukuran perusahaan,strategi perusahaan, atau manajemen.

Lebih lanjut, sikap konsumen terhadap perusahaan yang dinilai tidak melakukan CSR adalah ingin “menghukum” (40%) dan 50% tidak akan membeli produk dari perusahaan yang bersangkutan dan/atau bicara kepada orang lain tentang kekurangan perusahaan tersebut. Meskipun sikap ini masih berada pada tataran “idealisme”, dan belum tentu dapat diterapkan secara operasional dalam tataran praksis.

Secara teoritis, ada tiga kemungkinan relasi CSP dengan kinerja keuangan perusahaan: positif, netral, dan negatif. kelompok yang berpandangan negatif menyatakan bahwa CSP yang tinggi menyebabkan adanya cost tambahan yang dianggap merugikan (Aupperle, et al., 1985; McGuire et al., 1988; Ullmann, 1985; Vance, 1975).

Beberapa hasil penelitian empiris menemukan bahwa tidak ada hubungan antara kinerja sosial dengan kinerja keuangan (netral). Pihak-pihak yang menghasilkan pandangan ini (seperti Ullmann, 1985) berargumen bahwa ada sangat banyak variabel antara kinerja sosial dan kinerja keuangan, sehinga tidak ada alasan untuk mengharapkan terjadinya hubungan antara dua hal tersebut.

Di sisi lain, pihak yang berpendapat bahwa CSP akan berpengaruh positif bagi perusahaan juga memiliki argumen kuat. Menurut mereka, dengan CSP yang baik akan meningkatkan goodwill karyawan dan konsumen (Solomon dan Hansen, 1985; dalam McGuire et al., 1985), sehingga perusahaan tersebut akan menghadapi masalah dengan tenaga kerja yang lebih sedikit, lalu konsumen akan lebih setia kepada produk perusahaan. Menurut Margolis dan Walsh (2003) antara tahun 1972 sampai 2002, ada 127 publikasi studi empiris yang meneliti mengenai hubungan antara perilaku tanggung jawab sosial perusahaan dengan kinerja keuangan. Kompilasi sederhana dari hasil penelitian-penelitian tersebut menjelaskan bahwa ada hubungan positif, dan hanya sedikit yang bisa membuktikan adanya hubungan negatif antara kinerja sosial dengan kinerja ekonomi perusahaan (Margolis dan Walsh, 2003).
Studi dengan menggunakan metode meta-analisis terhadap 52 penelitian hubungan CSP-CFP yang dilakukan oleh Orlitzky, Schmidt, dan Rynes (2003) juga menunjukkan substansi kesimpulan yang sama.

Corporate Governance (CG)

Tata kelola perusahaan (Corporate Governance) adalah sebuah rangkaian proses, kebiasaan, kebijakan, aturan, dan institusi yang mempengaruhi pengarahan, pengelolaan, serta pengontrolan suatu perusahaan atau korporasi. Atau juga bisa diartikan sebagai Sistem yang menjamin perusahaan mencapai tujuannya (melalui kewirausahaan, inovasi, pengembangan, dan eksplorasi) sekaligus memastikan akuntabilitas dan kontrol terhadap cara-cara yang dipergunakan.

Pihak utama dalam penerapan CG adalah pimpinan dan penentu kebijakan dalam sebuah perusahaan. Pimpinan perusahaan (pemegang saham, direksi, manajer, dll) memegang peran strategis dalam keberhasilan sebuah perusahaan dalam menerapkan CG, sedangkan pihak lain yang juga ikut menentukan efektifitas implementasi CG seperti karyawan, pelanggan, kreditor dan masyarakat.

Perhatian terhadap praktik tata kelola perusahaan di perusahaan modern telah meningkat akhir-akhir ini, terutama sejak keruntuhan perusahaan-perusahaan besar AS seperti Enron Corporation dan Worldcom. Di Indonesia, perhatian pemerintah terhadap masalah ini diwujudkan dengan didirikannya Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) pada akhir tahun 2004.

Beberapa prinsip CG antara lain :

  1. Perlakuan yang adil dan tepat terhadap pemegang saham: Organisasi harus menghormati hak-hak pemegang saham dan membantu pemegang saham untuk melaksanakan hak-hak tersebut. Mereka dapat membantu para pemegang saham melaksanakan hak-hak mereka secara efektif mengkomunikasikan informasi yang dapat dimengerti dan dapat diakses dan mendorong pemegang saham untuk berpartisipasi dalam rapat umum.
  2. Kepentingan stakeholder lain: Organisasi harus mengakui bahwa mereka memiliki hukum dan kewajiban lain kepada semua stakeholders.
  3. Peran dan tanggung jawab dari menajemen: manajemen memerlukan berbagai keterampilan dan pemahaman untuk dapat menangani berbagai masalah bisnis dan memiliki kemampuan untuk meninjau dan menantang kinerja manajemen.
  4. Integritas dan perilaku etis: pengambilan keputusan yang etis dan bertanggung jawab tidak hanya penting untuk hubungan masyarakat, tetapi juga merupakan elemen penting dalam pengelolaan risiko dan menghindari tuntutan hukum. Organisasi harus mengembangkan kode etik untuk para direktur dan eksekutif yang etis dan bertanggung jawab mempromosikan pengambilan keputusan.
  5. Keterbukaan dan transparansi: Organisasi harus menjelaskan dan membuat peran dan tanggung jawab pengurus dan manajemen diketahui publik untuk memberikan tingkat akuntabilitas kepada pemegang saham. Mereka harus juga menerapkan prosedur untuk memverifikasi secara independen dan menjaga integritas pelaporan keuangan perusahaan. Pengungkapan hal-hal material mengenai organisasi harus tepat waktu dan seimbang untuk memastikan bahwa semua investor memiliki akses yang jelas, informasi faktual

Secara singkat dapat dikatakan bahwa dengan penerapan Corporate Governance, perusahaan diharapkan mampu :

  • Menerapkan etika bisnis secara konsisten sehingga dapat terwujud iklim usaha yang sehat, efisien dan transparan.
  • Bersikap dan berperilaku yang memperlihatkan kepatuhan dunia usaha dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan.
  • Mencegah terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
  • Meningkatkan kualitas struktur pengelolaan dan pola kerja perusahaan yang didasarkan pada asas GCG secara berkesinambungan.
  • Melaksanakan fungsi ombudsman untuk dapat menampung informasi tentang penyimpangan yang terjadi pada perusahaan.

Disamping efek eksternal dan jangka panjang diatas, penerapan Corporate Governance secara langsung akan mambuat perusahaan itu sendiri memiliki kemampuan bertahan karena pengelolaan yang baik.

Bacaan :

  1. Artikel mengenai Corporate Social Performance dan Corporate Governance di wikipedia.org
  2. Artikel mengenai Corporate Social Responsibility (CSR) di SCRIndonesia (www.csrindonesia.com)
  3. Pedoman penerapan good governance. Komite Nasional Kebijakan Governance (www.governance-indonesia.com)
  4. Pedoman Good Governance. Komisi Pemberantasan Korupsi (www.kpk.go.id)
  5. UU no. 40 th. 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Komunikasi Personal Vs Komunikasi Massa

November 21, 2009 ahmadfk Tinggalkan komentar

Komunikasi massa diarahkan kepada khalayak yang relatif luas dan heterogen serta anggotanya anonim, hal ini sesuai dengan istilah mass audience (khalayak massa). Tiga karakteristik inilah—ukuran luas, heterogenitas dan anonimitas—yang dianggap dapat membedakan komunikasi massa dengan bentuk-bentuk komunikasi yang lain yang cenderung terbatas, terarah dan personal. Tetapi juga tidak menutup kemungkinan, berdasarkan pandangan yang lebih lanjut, komunikasi massa tidak bisa dipandang hanya dari ketiga karakteristiknya diatas dikarenakan kyalayak memiliki banyak aspek sosiologis lain dari kumpulan manusia yang disebut massa.

 

4.1 Definisi Khalayak Massa

Herbert Blummer, seorang sosiolog, menunjukkan ada empat komponen sosiologis yang dapat digunakan untuk identifikasi massa, keempat komponen tersebut ialah :

Pertama, anggota-anggotanya bisa saja berasal dari segala lapisan kehidupan, dan dari seluruh tingkatan sosial…Kedua, massa adalah sebuah kelompok yang anonim, atau tepatnya terdiri dari individu-individu yang anonim. Ketiga, hanya terdapat sedikit interaksi atau pertukaran pengalaman antar-anggotanya…Keempat, massa diorganisasi sangat longgar dan tidak mampu bertindak bersama atau secara kesatuan seperti “crowd”.[1]

 

Dari definisi Blummer ini, dapat kita tarik empat komponen sosiologis dari massa, yakni: heterogen, anonim, interaksi minimal dan pengorganisasian yang longgar.

 

Biasanya menyertai konsep khalayak massa ini adalah suatu citra mengenai media komunikasi sebagai sesuatu yang bertindak secara langsung terhadap masing-masing anggota mencakup setiap anggota maupun tidak, mempengaruhinya secara langsung maupun tidak. Pandangan mengenai komunikasi massa ini disebut model jarul hipodermis: setiap anggota khalayak dalam khalayak massa secara perseorangan dan secara langsung “ditusuk” oleh pesan media massa.[2] Sekali pesan telah “menusuk” seseorang, ia mungkin atau mungkin juga tidak mempengaruhi orang tersebut, tergantung apakah pesan itu cukup kuat atau tidak.

Baik konsep khalayak massa maupun jarum hipodermis diatas, kini banyak dimodifikasi oleh penelitian sosiologis. Misalnya saja tentang salah satu komponen yaitu anonimitas. Kenyataan di masyarakat menunjukkan ternyata seorang individu jarang benar-benar anonim di lingkungan sosialnya. Biasanya setiap orang adalah anggota dari suatu kelompok tertentu, seperti keluarga, pekerjaan dan lainnya. Kelompk-kelompok inilah yang juga ikut mempengaruhi bagaimana kita diterpa oleh komunikasi massa, bagaimana kita mengintrepretasinya dan bagaimana kita menyikapi pesan komunikasi itu.

Misalnya saja penelitian Matilda dan John Riley tentang efek keanggotakan kelompok sebaya pada perilaku komunikasi. Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa anak-anak yang terintegrasi baik dengan kelompoknya cenderung tidak menyukai adegan kekerasan dan mengintepretasikan isi dari adegan tersebut lebih pada manfaat sosial untuk memajukan aktivitas bermain kelompok. Hal sebaliknya terjadi pada anak-anak dengan integrasi kelompok kurang baik, mereka cenderung menyukai kekerasan dan mengintepretasikan adegan dengan penafsiran apa adanya.[3]

Disamping itu penelitian juga ditemukan kenyataan bahwa sering terjadi banyak kejadian di mana anggota-anggota khalayak berpartisipasi dalam pengalaman kelompok. Misalnya saja karakteristik masyarakat di Uni Soviet dalam mendengarkan siaran radio secara berkelompok. Jadi sifat situasi social yang anonym bisa mempengaruhi respon khalayak.

Hubungan-hubungan informal inilah yang sering membuktikan bahwa pesan komunikasi massa tidak mesti langsung menyentuh semua anggota masyarakat seperti yang disangkakan model jarum hypodermis, malah kadang proses komunikasi berjalan dalam banyak tahap dari media ke khalayak atau yang disebut dengan multistep process. Awalnya pesan-pesan hanya menjangkau para pemuka opini (opinion leader) atau orang-orang yang berpengaruh, baru kemudian pesan itu diteruskan kepada anggota khalayak yang lain.

 

Komunikasi Informal dan Khalayak Massa

Dibawah ini adalah beberapa studi sosiologis yang menginformasikan bahwa komunikasi massa adalah sebuah proses sosial. Ada tiga studi kasus yang diringkaskan yang penelitiannya dilakukan secara luas di Amerika. Studi kasus ini mengungkapkan bagaimana peran pemuka pendapat dan proses arus komunikasi khalayak dua tahap (two step flow communication).

 

Kasus 1. Pemuka Pendapat dalam Kampanye Pemilihan Umum

Paul Lazarfeld melakukan penelitian selama kampanye presiden tahun 1940[4] yang menjadi studi rintisan mengenai perilaku pemilih dan pentingnya individu dalam mengantarai media massa dengan publik. Lazarfeld memperkenalkan sebuah metode baru yang disebut panel technique, dimana orang-orang yang sama berulang-ulang diwawancara selama periode waktu tertentu, hal ini memungkinkan peneliti mempelajari perkembangan dan perubahan pendapat. Wawancara dilakukan terhadap 600 orang di Erie Country, Ohio pada bulan Mei sampai November—yakni pada saat kampanye pemilihan berlangsung.

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa sebagian besar orang dalam kampanye politik cenderung mendengarkan terpaan media yang sesuai dengan keinginannya. Misalnya saja para pendukung partai republik lebih memilih dikenai terpaan media dari kampanye partai Republik daripada partai lain. Jadinya kampanye yang dilakukan kurang menyentuh kelompok sosial lain. Kampanye ini hanya memberikan efek peneguhan (reinforcement effect).

Efek peneguhan ini dikatakan dapat dipahami dalam hubungan dengan homogenitas kelompok: orang-orang yang sudah masuk dalam kelompok yang sama—Gereja yang sama, keluarga dan kelompok sosial lain yang sama—cenderung memberikan suara yang sama dengan anggota sekelompok mereka. Hal ini dimungkinkan karena adanya diskusi politik yang intensif antar anggota kelompok, dan ini lebih sering dan mengena daripada terpaan pesan di media massa. Demikianlah munculnya analisa tentang konsep komunikasi tatap muka dan hipotesa two step flow communication.

Dalam penelitian ini, identifikasi terhadap orang-orang yang dianggap pemuka pendapat dilakukan dengan cara sampel terhadap beberapa orang. Pertanyaan yang diajukan untuk mengetahui siapa pemuka pendapat adalah “dalam jangka waktu tertentu ini apakah mereka pernah dimintai pendapat atau memberikan pendapat mengenai pilihan politik atau tidak”.  Mereka yang diidentifikasikan sebagai pemuka pendapat adalah orang yang menjawab “ya” untuk salah satu dari dua pertanyaan berikut : (1) Sudahkah anda berusaha meyakinkan seseorang tentang gagasan politik anda, atau (2) Adakah seseorang meminta nasihat anda tentang masalah politik belakangan ini?. Jika orang menjawab “ya” salah satu dari dua pertanyaan itu maka ia diidentifikasikan sebagai pemuka pendapat.

Hasil dari penelitian itu dapat disimpulkan pertama, pengaruh personal mengalir tidak hanya dari “atas ke bawah” tapi juga secara horisontal (melalui pemuka pendapat tersebut). Kedua, pemuka pendapat adalah orang-orang yang lebih tertarik dan aktif. Ketiga, pemuka pendapat lebih diterpa kampanye daripada yang bukan. Mereka lebih aktif membaca berita daripada yang bukan pemuka pendapat. Keempat, pemuka pendapat terbukti menggunakan informasi yang diterima untuk menyampaikan pada pengikutnya.

 

Kasus 2. Pola-pola pengaruh di kota kecil

Penelitian selanjutnya adalah tentang orang-orang yang berpengaruh pada sebuah kota kecil berpenduduk 11.000 orang di Eastern. Penelitian ini dilakukan oleh Robert K. Merton untuk meneliti perilaku komunikasi dan pengaruh intrapersonal. Identifikasi orang-orang berpengaruh didapat dengan menanyai informan tentang orang-orang yang mereka anggap berpengaruh.[5]

Dari penelitian ini, Merton menemukan setidaknya ada dua jenis influentials (orang berpengaruh) : local influential (tokoh lokal) dan cosmopolitan influential (tokoh kosmopolitan). Perbedaan dua tokoh ini adalah pada orientasi mereka terhadap persoalan kota. Tokoh lokal lebih cenderung pada hubungan mereka dengan masyarakat kotanya sendiri, sedangkan tokoh kosmopolitan disamping hubungan dengan masyarakat lokal juga memperhatikan hubungan dengan komunitas yang lebih luas. Tokoh lokal biasanya lahir di kota tersebut dan aktif dalam organisasi kemasyarakatan serta mengenal banyak orang sedangkan tokoh kosmopolitan cenderung sebagai orang pendatang, mengenal dan beraktifitas dalam kelompok-kelompok khusus, seperti kelompok hobby, profesi, dll. Dalam hal konsumsi pesan, tokoh kosmopolitan cenderung mengkonsumsi berita global sedangkan tokoh lokal lebih menyukai berita yang terkait dengan kota mereka.

Akhir dari studi ini, Merton mengemukakan hipotesa tentang perilaku komunikasi keduanya. Menurut Merton, tokoh lokal cenderung menjadi polimorphis yaitu hubungan mereka dengan warga kota pada semua bidang dan memiliki pengaruh dalam banyak bidang tersebut. Sedangkan tokoh kosmopolitan lebih pada monomorphis yaitu hubungan yang bersifat spesifik pada bidang-bidang tertentu saja.

 

Kasus 3: Pengaruh Personal di Kota yang lebih Besar

Pada tahun 1945 diadakan penelitian oleh Lazarfeld pada 800 orang wanita di Illinois yang berpenduduk 60.000 jiwa. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh komunikasi personal dibandingkan dengan komunikasi massa dalam empat bidang : pemasaran, mode, kemasyarakatan dan film.

Kesimpulan penelitian oleh Lazarfeld ini ialah ternyata bahwa dalam 3 dari 4 persoalan (pemasaran, mode dan film) komunikasi personal lebih efektif daripada komunikasi massa. Mengapa komunikasi personal dianggap lebih efektif? Lazarfeld mengemukakan setidaknya ada lima karakteristik yang menguntungkan dari komunikasi personal: pertama, komunikasi personal lebih sulit dihindari, kedua komunikasi personal-tatap muka lebih memiliki fleksibilitas. Ketiga, komunikasi personal bisa meningkatkan ganjaran atas penerimaan dan hukuman dari penolakan pesan. Keempat, sebagian besar orang cenderung pada pendapat orang yang sudah mereka kenal, dan kelima dengan kontak personal komunikator lebih bisa membujuk penerima pesan tanpa harus mereka menerima pandangan baru. [6]

 


[1] Herbert Blummer, “Collective Behavior”, dalam Principles of Sociology. Disunting oleh Alfred Mc.Clung lee (New York: Barnes and Noble, 1946) hal. 185-186.

[2] Lebih lengkap mengenai model-model komunikasi, lih. Elihu Katz dan Paul Lazarfeld. Personal Influence : The Part Played by People in the Flow of Mass Communication (Glencoe, III:Free Press, 1955).

[3] Matilda dan John Riley, “A Sociological Approach to Communications Researc”, public opinion 15 (Fall 1951):445-460

[4] Paul Lazarfeld, Bernard Berelson dan H. Gaudet, The People Choice (New York: Columbia University Press, 1948)

[5] Robert K. Merton. Pattern of Influence dalam Lazarfeld dan Stanton. Personal Influence. Hlm. 180-219.

[6] Katz dan Lazarfeld. Personal Influence. Hlm. 185 (McMillan Publishing, 1955)

Hari Pahlawan, GANEFO dan Nasionalisme Kita

November 8, 2009 ahmadfk Tinggalkan komentar

Tanggal 10 November dikenal dengan Hari Pahlawan, di mana peringatannya ditujukan pada perjuangan dan pengorbanan arek-arek Suroboyo dalam pertempuran dengan pasukan Inggris. Pertempuran itu dipicu penolakan ultimatum yang diberikan pasukan Inggris agar pejuang Indonesia menyerah sebelum pagi tanggal 10 November 1945. Inggris mengultimatum sebagai buntut perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato oleh arek-arek Suroboyo.

Read more…

Categories: Humanis

SISWA DALAM ALIENASI PENDIDIKAN

Oktober 20, 2009 ahmadfk Tinggalkan komentar

Dunia pendidikan memang tidak sama dengan dunia ekonomi, namun bukan berarti teori-teori ekonomi tidak bisa digunakan untuk menjelaskan fenomena dalam dunia pendidikan. Dalam menjelaskan keterkaitan antara manusia dengan produk aktifitasnya, Marx menyebut keterasingan (alienasi) sebagai proses historis di mana manusia semakin terasing dari alam dan dari produk dari aktivitas mereka, baik secara nature maupun secara nurture. Meskipun konsep ini dititikberatkan pada pembahasan mengenai efek negatif yang menimpa buruh dalam industri kapitalis, namun konsep Marx ini juga mengacu pada perasaan terasing dari masyarakat, kelompok, kultur atau diri manusia sendiri yang lazim dirasakan oleh orang dalam budaya industrial yang kompleks.

Read more…

Categories: Intelektual

Manusia, Khalifah dan Bahasa

September 30, 2009 ahmadfk Tinggalkan komentar

Alkisah sebelum melantik manusia sebagai khalifah di bumi, Allah melakukan hearing dengan malaikat. Meskipun Allah memiliki otoritas penuh, namun untuk memberikan pelajaran musyawarah, Allah berkehendak mengetahui pendapat pembantunya yang setia itu, walau meski tanpa tanya Allah pastinya sudah mengetahui semuanya. Dalam “drama” itu Allah berkata kepada malaikat: “Aku akan menjadikan di bumi seorang khalifah”. Malaikat protes: “Mengapa engkau menjadikan di bumi itu (manusia) yang merusak dan menumpahkan darah”. Allah menjawab: “Sesungguhnya Aku tahu apa yang tidak kamu tahu”.

Read more…

Categories: Religius

SOAL FACEBOOK PEMKOT, BUKAN HANYA TENTANG BANDWIDTH

September 30, 2009 ahmadfk Tinggalkan komentar

Demam Facebook ternyata tidak hanya melanda para remaja, bahkan sampai orang-orang dewasa pun kecanduan dengan situs jejaring sosial yang popularitasnya menggeser Friendster tersebut. Tidak masalah jika situs pertemanan maya tersebut dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif misalnya mempererat silaturahmi atau promosi bisnis, yang jadi masalah jika jejaring sosial itu digunakan tidak lebih hanya sekedar “cangkruk maya”. Ngobrol ngalor-ngidul tanpa ada tujuan yang jelas. Ironisnya, jika penggunaan sekedar ngobrol tersebut dilakukan pekerja pada saat jam efektif. Ini jelas akan mempengaruhi produktifitas dan konsentrasi kerja.

Read more…

Categories: Teknologi

Urun Rembug Penerapan PSB Online

September 12, 2009 ahmadfk 2 komentar

Dalam beberapa hari terakhir ini masyarakat Surabaya dan sekitarnya terutama orangtua dan calon siswa digelisahkan dengan carut-marutnya sistem PSB online. Dispendik akhirnya memutuskan merubah sistem pendaftaran menjadi kembali manual. Menurut Kadispendik Sahudi, carut-marutnya sistem ini dikarenakan beberapa hal. Mulai internet yang lemot hingga entry data yang ngadat. Dari sembilan server yang tersedia, hanya satu yang bisa difungsikan (Metropolis, 24 Juni 20009). Jadwal PSB pun akhirnya harus ditunda, yang ekor akibatnya tidak hanya berimbas pada sekolah negeri, tetapi juga sekolah swasta karena pada umumnya sekolah swasta banyak menunggu limpahan siswa yang tidak diterima di sekolah negeri.

Read more…

Categories: Teknologi

PUASA : PHILOSOMA VS PHILOSOPHIA

September 2, 2009 ahmadfk Tinggalkan komentar

Dalam tradisi barat modern awal, pembacaan atas manusia cenderung pada permasalah nalar dan logika, sebagaimana tampak pada lebih populernya status homo sapiens dengan jargon cogito ergo sum-nya penganut cartesian. Namun kemunculan Freud dengan uraiannya tentang kesadaran dan ego agaknya menyingkirkan pandangan tersebut dan dalam banyak kasus para ahli lebih melihat manusia sebagai homo desiderare (makhluk yang berkeinginan). Terlebih setelah era pemikiran Jacques Lacan, Hegel, Foucault, Derrida sampai Kristeva di mana kosakata seperti keinginan (want), hasrat (desire), gairah (passion), dan libido mulai banyak dipakai untuk menjelaskan kompleksitas makhluk manusia.

Read more…

Categories: Uncategorized

PUASA DAN PROBLEMATIKA MODERNITAS

September 2, 2009 ahmadfk Tinggalkan komentar

Marhaban ya Ramadlan. Kini kita kembali diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk bisa menikmati kemuliaan puasa Ramadlan. Kesempatan emas ini harus kita manfaatkan sebaik-baiknya dengan cara melaksanakan ibadah puasa seperti yang dituntunkan Rasulullah Muhammad SAW, mengisi Ramadlan ini dengan pelbagai amalan sunnah seperti shalat Tarawih, Tadarrus Al-Qur’an, Bersedekah dan sebagainya. Insyaallah dengan menjalankan puasa secara baik dan benar kita bisa meningkatkan derajat kita dari mukmin menjadi muttaqin.

Read more…

Categories: Uncategorized

QURBAN & TEORI KAMBING HITAM

September 2, 2009 ahmadfk 1 comment

Rene Girard, seorang antropolog kelahiran Prancis yang kini menjadi Andrew B. Hammond Professor dalam bidang bahasa Prancis, sastra dan humanistik dari Stanford University pada tahun 1972 menerbitkan bukunya Violence and The Sacred yang didalamnya berisi teori Girard tentang mekanisme kambing hitam (scapegoat) sebagai unsur utama pembentuk agama. Sambutan terhadap teori itu baru meluas di kalangan ekseget (ahli kitab kristen) dan teolog kristen pada dekade 80-an. Namun tidak banyak intelektual muslim yang tertarik terhadap teori tersebut.

Read more…

Categories: Uncategorized