Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Peran Guru dalam Membangun Budaya Kejujuran Akademik (Bag.3)

Hari ini Ujian Nasional tingkat SMA tahun 2012 telah dimulai. Apa yang saya tulis beberapa waktu sebelumnya mengenai Peran Guru dalam Membangun Budaya Kejujuran Akademik (Bag.1 & Bag.2) agaknya mendapatkan tantangan serius. Tantangan ini berupa semacam tes: siapkan guru-guru kita menjadi garda depan dalam mewujudkan budaya kejujuran akademik itu. Ujian nasional yang selama ini menjadi hantu (baca tulisan Hantu Unas) agaknya berkata lain: guru kita belum siap membangun budaya kejujuran itu, malah ada kecenderungan ikut menjerumuskan siswa, atau paling tidak membiarkan mereka berbuat tidak jujur.

 Bongkar Modus Kunci Jawaban UN 2012

Beberapa hari sebelum pelaksanaan ujian nasional digelar, marak berita di media massa bagaimana para calo kunci jawaban beraksi mencari pelanggan. Mereka menawarkan kunci jawaban kepada siswa kelas XII yang akan mengikuti UN tahun 2012 ini. Setidaknya yang terbongkar seperti di Jombang, namun menurut fakta yang saya temukan, hampir di semua sekolah modus ketidakjujuran seperti ini berjalan.

Untuk tahun ini, para calo soal menawarkan kunci jawaban dalam sistem paket (IPA, IPS, atau Bahasa). Dalam setiap paket berisi kunci jawaban untuk semua mata pelajaran yang di-UN-kan. Setiap mata pelajaran berisi 5 paket kunci jawaban (karena tahun ini satu ruang ada 5 kode soal). Kunci jawaban diberikan oleh calo soal Minggu malam kepada koordinator siswa. Satu paket soal (IPA, IPS, atau Bahasa) dihargai 7,5 juta. Siswa koordinator bertugas mencari teman yang mau patungan membeli kunci ini. Kepada calo soal uang pembayaran tidak diberikan sepenuhnya tapi hanya DP maksimal 50%, sisanya diberikan saat UN selesai atau setelah pengumuman.

Sebelum masuk ruang ujian, koordinator siswa membagikan kunci jawaban kepada teman-teman mereka yang ikut membeli. Namun ada juga teman yang tidak ikut membeli yang mendapatkan kunci jawaban ini, tentu alasannya pertemanan. Karena alat komunikasi tidak diperbolehkan dibawa masuk ruang, otomatis jawaban tidak dibawa dalam bentuk digital (SMS di HP) tapi sudah dicatat di kertas. Penyebaran jawaban tidak dilakukan di ruang kelas, karena jawaban sudah diterima sebelum ujian maka setiap siswa pembeli kunci sudah menduplikasi jawabannya sendiri-sendiri.

Guru pengawas ruangan tidak akan tahu jika siswa membawa jawaban, karena mereka dilarang mondar-mandir di ruangan jika tidak ada keperluan. Pengawas independen hanya mengawasi kelancaran UN dari luar ruangan dan pengawasan soal setelah dikumpulkan, bukan saat dikerjakan. Sehingga pengawas independen tidak tahu apakah ada contekan atau tidak. Polisi yang berjaga juga hanya mengawasi keamanan sekolah (yang dalam praktiknya tidak akan terjadi kekacauan). Jadi mekanisme pengawasan yang ditetapkan (guru pengawas ruang, tim independen, dan kepolisian) tidak efektif dalam membongkar kasus ini.

Siapa yang berpotensi bisa membongkar praktik culas yang mengakar-urat dalam dunia pendidikan kita bertahun-tahun ini? Jawabnya tentu saja: guru. Tapi apakah guru kita mau? Ini yang sulit untuk dijawab. Apakah guru kita menyadari perannya dalam membangun budaya kejujuran akademik? Mungkin iya, tapi kesadaran akan peran itu apakah sedemikian kuat hingga membuat para guru berani mengambil resiko seperti ibu Siami untuk membongkar ketidakjujuran ini? Beranikah guru menghadapi resiko dikeluarkan, dipecat sekolah atau dimusuhi siswa dan teman sesama guru karena membongkar kasus ini?

Ini adalah tantangan bagi pelaku pendidikan yang masih berhati nurani. Semoga masih ada nurani yang kita miliki?

About these ads

One comment on “Peran Guru dalam Membangun Budaya Kejujuran Akademik (Bag.3)

  1. Pingback: Peran Guru dalam Membangun Budaya Kejujuran Akademik « Explore, Dream, Discover!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 16, 2012 by in Intelektual and tagged , .

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 32,468 pembaca
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: