Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

SISWA DALAM ALIENASI PENDIDIKAN

Dunia pendidikan memang tidak sama dengan dunia ekonomi, namun bukan berarti teori-teori ekonomi tidak bisa digunakan untuk menjelaskan fenomena dalam dunia pendidikan. Dalam menjelaskan keterkaitan antara manusia dengan produk aktifitasnya, Marx menyebut keterasingan (alienasi) sebagai proses historis di mana manusia semakin terasing dari alam dan dari produk dari aktivitas mereka, baik secara nature maupun secara nurture. Meskipun konsep ini dititikberatkan pada pembahasan mengenai efek negatif yang menimpa buruh dalam industri kapitalis, namun konsep Marx ini juga mengacu pada perasaan terasing dari masyarakat, kelompok, kultur atau diri manusia sendiri yang lazim dirasakan oleh orang dalam budaya industrial yang kompleks.

Menurut Marx, proses alienasi telah merubah manusia dari subyek yang kreatif menjadi obyek yang pasif dalam proses sosial. Proses alienasi akan menyebabkan manusia terasing dari : (1) Produk mereka, yang tidak menjadi milik mereka, (2) Pekerjaan itu sendiri, karena pekerjaan itu adalah satu-satunya cara untuk bertahan, (3) Diri mereka, karena proses yang dilakukan bukanlah kemauan sendiri, dan (4) dari orang lain di lingkungan yang sama, karena mereka bekerja sendiri-sendiri. Robert Blauner (1964) dalam penelitiannya menemukan bahwa proses alienasi paling besar terjadi pada industri produk massal dan paling sedikit dalam produksi kerajinan/seni. Ini artinya, semakin sebuah proses produksi mengejar target pencapaian secara kuantitas, maka pekerja akan semakin terasing.

Fenomena ini tidak jauh berbeda dengan yang terjadi dalam dunia pendidikan kita. Perubahan kurikulum yang ditetapkan pemerintah saat ini, yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) memang menyediakan ruang gerak bagi pelaksana pendidikan (baca: sekolah dan guru) untuk lebih kreatif, namun tidak bagi siswa sebagai peserta didik. Tetap saja siswa tidak bisa menjadi subyek yang kreatif dalam usahanya “memproduksi ilmu”, ia harus mengikuti alur dan alir yang ditetapkan sebagai sistem pendidikan. Dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai dalam jangka waktu tertentu sistem pendidikan kita memaksa guru untuk mencapai target kurikulum, dan bagaimanapun pencapaian target tersebut akan mengabaikan soal “makna” dari pembelajaran itu sendiri. Semua serba otomatis, awal tahun ajaran siswa mengikuti tes masuk dan satu tahun berikutnya, senang tidak senang dan mau tidak mau ia harus menyelesaikan target mempelajari seabrek materi pelajaran.

Makna dari materi-materi pelajaran itupun akhirnya menjadi persoalan marginal bagi pengajar, target utamanya adalah menyelesaikan semua beban mengajar dalam waktu yang ditentukan dengan nilai minimal yang juga ditentukan. Siswa sebagai peserta didik akhirnya juga harus memposisikan dirinya sebagai “mesin” penjawab soal, dengan berbagai standar yang ditetapkan. Tidak penting apakah proses pendidikan bermakna bagi mereka, yang terpenting kemudian adalah menyelesaikan semua beban studi dan memberikan hasil minimal sama dengan standar. Inilah yang dinamakan Fromm dengan automaton, manusia tidak ubahnya seperti mesin.

Bahkan jika usaha reguler untuk menjawab soal-soal dirasa kurang memberikan hasil maksimal, maka siswa akan mencari tambahan pengetahuan agar bisa menyelesaikannya dengan hasil yang lebih bagus. Inilah yang mendasari fenomena larisnya Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) dengan tawaran tips dan trik menjawab soal-nya yang memikat banyak peserta didik dan orangtua mereka.

Sehingga proses alienasi yang terjadi dalam dunia pendidikan, agaknya tidak jauh berbeda dengan apa yang digambarkan Marx diatas, yakni pertama, Siswa teralienasi dengan produk mereka, dalam hal ini hasil dan pengalaman yang mereka dapatkan selama menempuh pendidikan.  Jawaban-jawaban soal, catatan pada buku dan buku bacaan pelajaran menjadi tidak bermakna lagi ketika mereka telah menyelesaikan studi. Siswa kita terasing dari produk pikirannya dalam mencari jawaban soal-soal. Sedikit sekali dari peserta didik kita yang menjiwai materi pelajaran yang diberikan. Tidak ada internalisasi nilai-nilai.

Kedua, siswa teralienasi dari pekerjaan mereka, dalam hal ini adalah status mereka sebagai pelajar. Jika dalam relasi buruh dengan kapitalis, pekerjaan dianggap buruh sebagai satu-satunya cara  bertahan hidup, maka bersekolah juga dianggap satu-satunya cara untuk bertahan oleh siswa. Hanya dengan mengikuti pendikan formal pada satu satuan, mereka bisa mengikuti pendikan pada jenjang berikutnya. Sekolah juga menjadi satu-satunya cara mereka menghindari stigma buruk masyarakat.

Ketiga, keterasingan siswa dari diri mereka sendiri. Ini merupakan lanjutan dari efek negatif kedua di atas. Seringkali siswa tidak menyukai sebagian materi pelajaran, namun mereka tidak berdaya, tidak memiliki kemampuan untuk tidak memilihnya. Menyetujui untuk ikut pendidikan formal pada satu jenjang tertentu berarti menyetujui semua rentetan proses yang harus dilalui selama tiga tahun.

Keempat, terasing dari lingkungannya. Iklim kompetisi yang ketat baik diantara teman dalam satu kelas, satu sekolah, maupun antar sekolah bahkan antar daerah lebih banyak menyebabkan identifikasi siswa lain sebagai rival, bukan mitra belajar. Konsekuensinya egoisme peserta didik menjadi tinggi. Ini bukan berarti saya menganjurkan siswa untuk mencontek, tapi lebih pada perasaan bertanggungjawab jika teman sesamanya kurang paham dengan materi pelajaran yang diajarkan.

Bagaimana mengatasinya? Jika merujuk pada hasil penelitian Blauner bahwa dalam pekerja seni keterasingan yang terjadi relatif sedikit, maka dalam proses pendidikan siswa harus meresapi setiap materi yang dicernanya dan memaknakan tiap produk pengetahuan yang diolahnya. Setiap usaha belajar siswa harus merupakan perwujudan proses kreatif siswa sebagai seorang manusia, bukan mesin. Proses kreatif tersebut melibatkan segenap cipta, rasa, karsa dan daya siswa dalam usahanya untuk memahami dunia dan alam ini melalui usaha belajarnya.

Standar kompetensi minimal bisa dianggap sebagai permintaan eksternal dan siswa melampaui standar tersebut dengan segenap kesadarannya. Jadinya pembelajaran berpusat pada siswa benar-benar terwujud. Guru tidak boleh membatasi cara siswa dalam menerima dan mengolah materi pelajaran. Saat ini, metode gurulah yang dipakai dalam mengolah materi pelajaran, jika ada siswa yang memiliki metode berbeda sangat mungkin ia tidak diterima.

Jadinya setiap hasil usaha siswa adalah hasil dari proses kreatif, bukan sekedar partisipatif, apalagi pasif. Tentunya ini juga membutuhkan banyak faktor pendukung, namun apa sih yang lebih bernilai daripada pendidikan yang bermakna?

About these ads

2 comments on “SISWA DALAM ALIENASI PENDIDIKAN

  1. budi sanjaya
    January 29, 2010

    salam kenal pak pak ahmad..
    web skula nya bagus, likes this pak..
    salam buwat “pak sukari” juga ya pak ahmad

    best regards,
    budi ‘bede’ sanjaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 20, 2009 by in Intelektual.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 31,001 pembaca
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: