Alkisah di akhirat, bertemulah KH. Ahmad Dahlan dengan temannya, Ki Hajar Dewantara sesama begawan pendidikan nasional di negara antah berantah, Indonesia. Karena sudah tidak lama berjumpa, keduanya terlibat pembicaraan mengenai kondisi pendidikan di negara mereka dulu.

(lagi…)

Kontroversi apapun yang ada di dunia ini jika dirunut sampai pada faktor primer penyebabnya dan kalau boleh dikelompokkan akan berpusat pada tiga aspek mendasar dalam diri manusia, yakni : Insting, Akal dan Hati. Berbagai persoalan yang terjadi, menyangkut apapun itu walau dengan kejadian yang sama akan menghasilkan respon yang berbeda jika didasari atas dominasi salah satu aspek di atas. Konflik dan kekerasan seringkali berakar dari perbedaan penyikapan atas sesuatu yang didasari atas perbedaan dominasi aspek ini.

(lagi…)

Ada satu cerita klasik yang sudah banyak diketahui oleh warga Muhammadiyah terkait dengan pemahaman pendiri persyarikatan ini terhadap surat al-Ma’un. Singkat kisahnya seperti ini: suatu ketika sang Kyai memberikan pelajaran berulang-ulang kepada santri-santrinya mengenai surat al-Ma’un. Beberapa hari materi yang diberikan diulang-ulang sehingga para santri merasa heran. Seorang santri beliau yang bernama Sujak, memberanikan diri bertanya, ”Kyai, mengapa surat al-Ma’un diulang berkali-kali?,” tanyanya. Sang Kyai menjawab: ”Sudahkah kalian memahami surat al-Ma’un?”. Santrinya pun mengiyakan, ”bahkan kami sudah hapal,” ujar mereka.

(lagi…)

 

Beberapa waktu yang lalu, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kembali menuai kontroversi terkait penayangan gambar KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari dalam iklan politiknya. Tak ayal, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama pun kebakaran jenggot. Din Syamsuddin mengatakan bahwa tindakan PKS mendompleng KH. Ahmad Dahlan itu tidak etis. Sebelumnya AMM Sumut juga mengajukan protes. Dari kalangan NU juga ada yang memprotes tindakan PKS tersebut.

(lagi…)

Pada Pilgub Jatim putaran pertama kemarin saya memilih untuk tidak memilih alias golput, pada putaran kedua yang digelar 4 November ini saya masih tetap tidak memilih alias abstain alias golput. Tulisan ini selanjutnya akan menguraikan alasan saya untuk tetap golput tanpa bermaksud mengajak orang berpendapat sama, tidak juga sebagai bentuk pembangkangan terhadap sistem demokrasi politik negeri ini. Secara umum saya melihat bahwa kedua pasangan (Kaji & Karsa) sama-sama telah maksimal berusaha merebut simpati warga Jatim dengan berbagai cara : kampanye, debat, iklan, sowan ke kyai, menghadiri berbagai acara sampai blusukan ke pasar-pasar. Namun dasar saya ini orang yang tidak mudah percaya (entah itu negatif apa positif) jadi tetap saja sulit untuk yakin pada orang.

(lagi…)

Keyakinan dan kepercayaan bahwa setiap anggota masyarakat memiliki hak untuk diperlakukan sama dalam setiap bidang kehidupan dan anggota masyarakat yang lain wajib untuk melaksanakannya baik dalam pengertian formal maupun material banyak menduduki tempat utama dalam pemikiran modern. Gagasan bahwa pada dasarnya semua manusia sama adalah gagasan sejak masa lampau, terutama hal ini diekspresikan oleh agama yang menyatakan bahwa semua manusia sama di mata Tuhan. Dalam Islam dikatakan: Inna akramakum ‘indallahi athqakum, yang paling mulia diantaramu di sisi Allah adalah yang paling taqwa. Hal ini mengindikasikan penyamarataan derajat formal ataupun material dan melebihkan derajat moral. Di abad 20 cita-cita kesetaraan dianggap aboriginally sudah ada (minimal secara teoritis) dalam masyarakat maju dan perhatian sepenuhnya diarahkan untuk mencapai kesetaraan sosial.

(lagi…)

 

Seorang teman dalam sebuah gurauan bertanya kepada saya: ”Kamu mau jadi caleg ya?”. Lalu aku pun menjawabnya dengan gelengan kepala. Dia berkata lagi, ”Percuma kamu jadi caleg, nggak akan menang meskipun kamu pinter. Untuk bisa menang, kamu Cuma butuh dua hal: uang dan massa”. Memang perkataan teman ini ada benarnya juga, dalam sistem demokrasi dengan menggunakan konsep pemilihan langsung dimana setiap jiwa mendapatkan kesempatan yang sama untuk memberikan hak suaranya, maka mutlak dibutuhkan dukungan masif dari banyak pemilih untuk dapat memenangkan pemilihan.  Maka kepemilikan massa adalah investasi utama dalam sistem demokrasi yang kita pakai dewasa ini, dan untuk dapat menggerakkan massa—atau memperoleh dukungan—modal finansial yang memadai adalah salah satu hal yang dibutuhkan.

(lagi…)

Himpunan dari semua hasil yang mungkin pada suatu percobaan disebut ruang sampel, yang biasa ditulis dengan notasi S dan setiap anggota dari S disebut titik sampel.

(lagi…)

Perubah (variable) adalah lambang (symbol) yang digunakan untuk menyatakan sebarang anggota suatu himpunan. Jika himpunannya R maka perubahnya disebut perubah real. Selanjutnya, yang dimaksudkan dengan perubah adalah perubah real.

(lagi…)

SEAMEO Regional Open Learning Center (SEAMOLEC) berencana mengadakan Lomba Pemanfaatan TIK/ICT dalam bentuk Web dan Blog sekolah bagi Sekolah Lanjutan Pertama (SMP/MTs/SLB) dan Sekolah Lanjutan Atas (SMU/SMK/MA/MAK/SLB) dan Pesantren. Lomba ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepedulian komunitas pendidikan terhadap perkembangan dan pemanfaatan TIK/ICT khususnya untuk pembelajaran. Selengkapnya klik: http://lombablog.seamolec.org/index.php/home

Halaman Berikutnya »